LES MISÉRABLES (Part 3)
Karya Victor Hugo
FANTINE
Kejatuhan
II
MALAM itu, setelah berjalan-jalan di kota, Uskup D__ tetap terjaga hingga larut di dalam kamarnya. Ia tengah sibuk mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai. Dengan teliti ia mengkaji apa yang telah dikatakan oleh para pastor dan para ahli tentang topik itu.
Pada pukul delapan malam ia masih bekerja, menulis dengan agak susah di atas beberapa lembar kertas beralas sebuah buku besar terbuka di atas lututnya. Pada saat itulah Madame Magloire masuk seperti biasa untuk mengambil peralatan makan dari perak yang terletak di atas meja dekat tempat tidur. Sejenak kemudian Uskup yang mengetahui bahwa meja makan telah siap dan adiknya telah menunggu segera menutup bukunya dan pergi ke ruang makan.
Ruang makan ini merupakan sebuah tempat yang lapang dengan sebuah perapian dan pintu yang menghadap ke jalan raya serta jendela yang menghadap ke taman.
Madame Magloire baru saja selesai menata piring.
Sambil menata meja makan, ia bercakap-cakap dengan Mademoiselle Baptistine.
Sebuah lampu diletakkan di atas meja yang di dekat perapian. Api lampu itu menyala terang.
Tidaklah sulit menggambarkan kedua perempuan itu; mereka berusia di atas enam puluh tahun. Madame Magloire bertubuh mungil, gemuk, dan cekatan. Mademoiselle Baptistine berwajah manis dan bertubuh kurus, tampak rapuh dan sedikit lebih jangkung dari abangnya. Dia mengenakan gaun sutra bergaya tahun 1806 yang ia beli saat berada di Paris dan masih dipakainya kini. Pendek kata, Madame Magloire memiliki penampilan seorang perempuan dari keluarga petani, sedangkan Mademoiselle Baptistine berpenampilan seorang perempuan bangsawan.
Saat Uskup memasuki ruang makan, Madame Magloire sedang berbicara dengan nada hangat. Dia berbicara pada Mademoiselle Baptistine tentang soal-soal yang biasa, yang sudah sering didengar oleh Uskup, yakni pembicaraan tentang mengunci rapat-rapat pintu depan.
Tampaknya saat Madame Magloire keluar rumah untuk belanja bahan makanan untuk makan malam, dia mendengar kabar dari berbagai tempat. Ada gunjingan bahwa seorang penjahat buronan, seorang pengelana mencurigakan, telah datang ke kota mereka dan bersembunyi di suatu tempat di kota itu. Kejadian tak menyenangkan pasti akan dialami oleh orang-orang yang terlambat pulang ke rumah pada malam itu. Mademoiselle Baptistine berupaya menenangkan Madame Magloire tanpa membuat abangnya tak enak hati. Ia berkata ragu-ragu, “apakah Kakak mendengar apa yang dikatakan Madame Magloire?”
“Aku mendengarnya,” ujar Uskup. Lalu ia memutar kursinya dan meletakkan tangan di atas lutut. Ia memandang pada pelayan tua itu dengan wajah ramah, lalu berkata,”Hm, lalu apa masalahnya? Apakah kita sedang berada dalam bahaya?”
Madame Magloire mulai bercerita lagi dan tanpa sadar menambah-nambahi sedikit. Seorang Gipsi bertelanjang kaki, sejenis jembel yang berbahaya, berada di dalam kota. Ia tadinya akan menginap di penginapan Jacquin Labarre yang lalu menolaknya. Ia terlihat memasuki kota di dekat Bulevar Gassendi dan berkeliaran sepanjang jalan pada senja hari. Lelaki itu menyandang gembolan dengan raut wajah mengerikan.
“Wah!” ujar Uskup.
Tanggapan ini membuat Madame Magloire senang. Tampaknya Uskup pun merasa harus berhati-hati. Madame Magloire melanjutkan ceritanya dengan penuh rasa kemenangan, “Ya, Monsinyur. Memang benar. Akan terjadi sesuatu di kota ini malam ini. Semua orang bilang begitu. Saya dan Mademoiselle juga …….”
“Aku?” potong Mademoiselle Baptistine. “Aku tak berkata apa pun. Apa pun tindakan abangku pasti dipertimbangkan dengan matang.”
Madame Magloire melanjutkan perkataannya seakan-akan ia tak mendengarkan protes Mademoiselle Baptistine, “Kami mengatakan bahwa rumah ini tidak aman. Jika Monsinyur mengizinkan, saya akan pergi ke Paulin Musebois, tukang kunci, untuk memasang gembok pintu. Tak akan memakan waktu lama. Menurut saya kita harus memasang gembok, biarpun hanya untuk malam ini. Pintu itu mudah terbuka dari luar. Sangat mengerikan. Lagi pula Monsinyur biasa mengatakan, ‘Masuklah,’ bila ada orang mengetuk pintu walau sudah tengah malam. Tapi, ya, Tuhan! Bahkan sebenarnya tak perlu minta izin ….”
Dan tepat pada saat itu terdengar suara ketukan keras di pintu rumah mereka.
“Masuklah!” kata Uskup.
III
PINTU itu terbuka.
Pintu terbuka dengan cepat dan lebar seolah-olah didorong oleh seseorang yang bertenaga besar.
Seorang lelaki masuk.
Lelaki itu sudah kita ketahui. Dialah si pejalan yang tadi kita lihat tersaruk-saruk mencari tempat menginap.
Ia masuk, kakinya menjejak selangkah, lalu berhenti. Pintu dibiarkan terbuka di belakangnya. Di punggungnya tergantung sebuah gembolan. Tangannya memegang sebatang tongkat. Ada sorot lelah, kasar, dan tajam menyengat dalam sepasang matanya yang diterangi cahaya dan perapian. Ia tampak menyeramkan. Seperti sebuah pertanda buruk.
Madame Magloire bahkan tak lagi mempunyai kekuatan untuk sekedar berteriak. Dia berdiri dengan tubuh gemetar. Mulutnya ternganga.
Mademoiselle Baptistine menoleh, melihat lelaki itu masuk dan mulai merasa agak khawatir. Lalu, dengan perlahan ia kembali melihat ke arah perapian, menatap abangnya dan wajahnya kembali tampak tenang dan anggun.
Uskup itu menatap si lelaki itu dengan mata tenang.
Ketika sang uskup sedang berusaha membuka mulut untuk bertanya apa yang diinginkan tamunya, lelaki itu bertumpu dengan kedua tangan pada tongkatnya, melirik mereka satu per satu dan tanpa menunggu Uskup bicara, ia berkata dengan suara lantang, “Lihatlah! Aku Jean Valjean. Aku ini seorang narapidana. Sudah sembilan belas tahun aku dihukum kerja paksa di kapal. Empat hari yang lalu aku dibebaskan dan hendak pergi ke Pontarlier. Sudah empat hari aku berjalan kaki dari Toulon. Hari ini aku berjalan dua belas league. Saat sampai di penginapan tadi sore, mereka mengusirku karena KTP kuning yang telah kutunjukkan di kantor wali kota sesuai peraturan. Aku pergi ke penjara, tapi sipir tak mengizinkanku masuk. Aku pergi ke ladang untuk tidur di bawah bintang, tapi tak ada binatang. Kukira akan turun hujan dan Tuhan tidak cukup baik untuk menghentikannya. Maka aku kembali ke kota untuk mencari tempat berteduh. Di halaman gereja aku berbaring di atas sebuah batu. Seorang perempuan yang baik menunjukkan padaku rumah kalian dan berkata, “Ketuklah!’ Kini aku telah mengetuk. Tempat apakah ini? Apakah ini penginapan? Aku punya uang. Tabunganku. Jumlahnya seratus sembilan franc dan lima belas sou yang kudapat selama sembilan belas tahun kerja di kapal. Aku akan membayar. Apa peduliku? Aku punya uang. Aku lelah sekali habis berjalan kaki dua belas league. Aku juga lapar sekali. Bolehkah aku menginap?”
“Madame Magloire,” ujar Uskup,”ambilkan piring lagi.”
Lelaki itu maju tiga langkah dan mendekat pada lampu yang terdapat dekat meja. “Berhenti,” ujarnya, seakan-akan perkataannya belum dipahami, “bukan begitu, tidakkah kalian paham? Aku ini seorang budak kapal, seorang narapidana. Aku baru saja bebas dari kerja paksa. Ini KTP-ku. Warnanya kuning. Ini sudah cukup untuk mengusirku. Kalian boleh melakukannya! Semua orang telah mengusirku. Apakah kalian akan menerimaku? Apakah ini penginapan? Bisakah kalian memberiku makanan dan tempat tidur? Apakah kalian punya kandang kuda?”
“Madame Magloire,” ujar Uskup, “siapkan seprai untuk ranjang di kamar yang kecil.”
Madame Magloire beranjak untuk melaksanakan perintah Uskup.
“Monsieur, silakan duduk dan menghangatkan diri. Kami baru saja hendak makan malam. Tempat tidur Anda akan disiapkan saat Anda makan malam.”
Akhirnya, lelaki itu mengerti juga. Wajahnya yang tadi tampak keras dan muram, kini menunjukkan keheranan, keraguan, dan rasa senang. Ia mulai berceloteh seperti orang gila.
“Benarkah? Sungguh, kalian akan menerimaku? Kalian tak mengusirku? Seorang napi! Anda memanggilku monsieur dan tak berkata, ‘Pergi kau, anjing!’ seperti yang dilakukan orang lain. Kalian sungguh rela membiarkanku tinggal? Kalian orang baik! Lagi pula aku punya uang. Aku akan membayar dengan pantas. Maafkan aku, Monsieur Pemilik Penginapan, siapakah nama Anda? Aku akan membayar seperti yang ku bilang. Anda orang baik. Anda pemilik penginapan, bukan?”
“Aku seorang penggembala jemaat yang tinggal di sini,” ujar Uskup.
“Penggembala jemaat?” ujarnya. “Oh, Anda seorang imam berhati mulia! Kalau begitu Anda tak akan memintaku membayar? Anda seorang imam, bukan? Imam gereja besar ini? Ya, betul. Betapa bodohnya aku. Aku tak memerhatikan topi Anda.”
Seraya berkata, ia menaruh gembolan dan tongkatnya di pojok ruangan, lalu menyimpan KTP-nya di dalam saku. Ia kemudian duduk. Mademoiselle Baptistine menatapnya dengan ramah. Lelaki itu melanjutkan, “Anda amat manusiawi, Monsieur. Anda tidak menistaku. Seorang penggembala umat yang baik dan mulia adalah hal yang terpuji. Anda tak ingin aku membayar pada Anda?”
“Tidak,” kata Uskup, “simpan saja uang Anda.”
Uskup itu menarik napas panjang.
Si lelaki melanjutkan,”Karena Anda seorang pastor, aku harus mengatakan pada Anda bahwa di kapal ada seorang petugas pembagi sedekah. Pada suatu hari aku melihat seorang uskup. Monsinyur, begitu mereka memanggilnya. Ia adalah Uskup Agung dari Marseilles. Ia adalah imam yang lebih tinggi daripada semua imam. Anda tahu–maafkan aku, betapa aku canggung untuk mengatakannya. Bagiku hal semacam itu begitu jauh! Anda tahu seperti apa kami. Ia menyampaikan misa di depan altar. Ia memiliki mahkota emas di kepalanya yang bersinar diterpa cahaya matahari. Waktu itu siang hari. Kami berbaris tiga saf, lalu meriam dan kembang apai dinyalakan di hadapan kami. Kami tak bisa melihatnya dengan baik. Ia berbicara pada kami, tapi tak cukup dekat untuk bisa kami dengar. Kami tak paham apa yang dikatakannya. Itulah yang namanya uskup.”
Saat lelaki itu bicara, Uskup menutup pintu yang tadi dibiarkan terbuka lebar.
Madame Magloire membawa sebuah piring dan menatanya di atas meja.
“Madame Magloire,” ujar Uskup,”letakkan piring itu sedekat mungkin dengan perapian.” Lalu menoleh pada tamunya dan menambahkan, “Angin malam begitu liar di Pegunungan Alpen. Anda pasti kedinginan, Monsieur.”
Setiap kali Uskup menyapanya monsieur dengan suara yang lembut, wajah lelaki itu tampak bersinar. Sapaan monsieur bagi seorang narapidana bagaikan segelas air bagi seseorang yang tengah sekarat karena kehausan di tengah laut. Orang-orang yang dianggap tercela amat haus akan rasa hormat.
“Lampu ini, “ ujar Uskup,”cahayanya kurang terang.”
Madame Magloire memahami perkataan Uskup. Dia beranjak pergi dan mengeluarkan dua tempat lilin dari perak, menyalakan lilin, lalu menaruhnya di atas meja.
“Monsieur Pastor,” ujar lelaki itu, ” Anda baik sekali tidak mengusirku. Anda menerimaku di dalam rumah Anda. Anda menyalakan lilin untukku. Aku tak akan menyembunyikan pada Anda dari mana aku berasal dan betapa menderitanya diriku.”
Uskup yang duduk di dekatnya menyentuh lengan lelaki itu dengan lembut dan berkata,” Anda tak perlu mengatakannya padaku siapa diri Anda. Ini bukanlah rumahku. Ini adalah rumah Kristus. Siapapun yang datang tak perlu ditanyai apakah ia punya nama. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia punya penderitaan. Anda sedang menderita. Anda lapar dan haus. Selamat datang. Tak perlu berterima kasih padaku. Jangan katakan bahwa aku membawa Anda masuk ke rumahku. Ini bukan rumah siapapun, kecuali mereka yang membutuhkan perlindungan. Wahai pejalan, kukatakan pada Anda, Anda lebih berhak berada di sini daripada aku sendiri. Apa pun yang ada di sini adalah milik Anda. Apa perluku mengetahui nama Anda? Lagi pula, sebelum Anda mengatakannya padaku, aku sudah tahu.”
“Betulkah? Anda tahu namaku?”
“Ya,” sahut Uskup,”nama Anda adalah Saudaraku.”
“Stop, stop, Monsieur,” teriak lelaki itu. “Aku amat kelaparan saat aku masuk, tetapi Anda begitu baik sehingga kini aku tak tahu siapa diriku. Semuanya telah sirna.”
Uskup menatapnya dan berkata padanya, “Anda telah mengalami banyak penderitaan?”
“Oh! Baju merah, bola besi dan rantai, papan untuk tidur, cuaca panas, dingin, cambukan, borgol untuk sesuatu yang tak kulakukan, kamar bawah tanah untuk sepatah kata yang salah–bahkan saat sakit terbaring di ranjang pun aku tetap dirantai. Anjing-anjing pun lebih bahagia! Sembilan belas tahun! Dan kini umurku empat puluh enam, dengan KTP kuning. Begitulah.”
“Ya,” sahut Uskup, “Anda telah meninggalkan tempat penderitaan. Tapi dengarkan, ada lebih banyak kesenangan di surga bagi tangisan seorang pendosa yang bertobat dibandingkan jubah putih seratus orang baik. Jika Anda meninggalkan tempat yang menyedihkan itu dengan kebencian dan kemarahan terhadap manusia, Anda patut dikasihani. Jika Anda meninggalkannya dengan niat baik, kelembutan dan kedamaian, Anda lebih baik dari kami semua.”
Pada saat itu Madame Magloire telah selesai menyiapkan makan malam yang terdiri dari sup yang terbuat dari air, minyak, roti dan garam, sedikit daging babi, sedikit daging domba, sedikit buah ara, sebongkah keju hijau dan sepotong besar roti gandum hitam. Tanpa bertanya, dia juga menambahi menu makan malam Uskup dengan sebotol anggur tua Mauves.
Air muka sang uskup tampak ceria oleh rasa senang, khas orang-orang yang berwatak ramah. “Untuk makan malam!” ujarnya tegas seperti kebiasaannya saat ia menerima tamu. Ia mempersilahkan lelaki itu duduk di sebelah kanannya. Mademoiselle Baptistine yang bersikap amat wajar dan duduk tenang di sisi kirinya.
Uskup mengucap doa dan ia sendiri yang mengambil sup, sesuai dengan adat yang biasa berlaku. Lelaki itu makan dengan lahap.
Sekonyong-konyong Uskup angkat bicara,”Rasanya ada sesuatu yang kurang di atas meja ini.”
Madame Magloire hanya menata tiga buah piring yang diperlukan saja. Sudah menjadi adat di rumah itu menata seluruh enam piring perak di atas meja sekedar untuk dipajang, apabila Uskup mengundang seseorang untuk makan malam. Penampilan yang tampak mewah ini seperti semacam tingkah kekanak-kanakan yang penuh daya tarik dalam kelembutannya. Ini dilakukan untuk memberi harga diri pada si miskin.
Madame Magloire memahami kalimat itu. Tanpa sepatah kata pun dia beranjak pergi dan sejenak kemudian ketiga piring lainnya yang dimaksud oleh Uskup telah bersinar di atas lapik meja, disusun secara simetris di hadapan ketiga orang yang tengah bersantap.
Ini merupakan lanjutan dari penggalan novel Victor Hugo, seorang penuls novel legendaries Hunchback of Notre Dame. Kalau anda membaca seluruh novel ini, anda mulai memahami bagaimana Paris sebelum dan sesudah Revolusi Industri di Perancis. Karya ini layak dibaca oleh siapapun juga. Selamat membaca.