Madonna Sang Pastor (Lanjutan Bag.2-Satu)
Oleh Amy Hassinger
Judul Asli “The Priest’s Madonna”
Penerbit PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2006
Penerjemah : John de Santo
509 Halaman
PADA suatu musim gugur, ketika Michelle dan aku berusia kira-kira enam belas tahun, ayahku mempekerjakan seorang pengembara. Pria kurus kerempeng itu muncul di rumah tanpa sepatu. Ia datang dari sebuah desa kecil di pegunungan sebelah barat desa kami, dekat perbatasan Spanyol. Tidak banyak yang kami ketahui mengenai dirinya. Ia tidak berbicara dengan logat kami–logatnya lebih kasar, pengucapannya lebih dekat dengan bahasa Spanyol – tetapi ayah tetap mempekerjakannya. Ia jelas-jelas membutuhkan pekerjaan. Ibu memberinya makan dan membolehkannya tidur di depan perapian. Keesokan harinya, ayah menyuruhnya bekerja memasak lembaran wol untuk dijadikan bulu kempa atau lakan. Aku tidak mengetahui nama sebenarnya, namun orang-orang memanggilnya dengan nama le bandit. Ia tidur di lantai ruang kerja.
Suatu sore, ayahku terlibat pertengkaran sengit dengan salah seorang pekerja mengenai kemunafikan gereja. Pada malamnya, kamar tidur kami penuh dengan asap. Aku terbangun, dan sambil terbatuk-batuk turun ke lantai, alas kakiku hangus terbakar. Kami meloncat dari jendela kamar di lantai dua ke atas rumput yang berada di belakang rumah. Ayah menangkap Claude, Michelle, dan aku, namun ia gagal menangkap ibu. Ibuku terjatuh dan menangis, lengannya dibalut linen dan renda. Kemudian lonceng gereja berdentang–seseorang membunyikan tanda bahaya–dan orang-orang berkumpul, ember-ember di isi air sungai dan dibawa dengan kereta dorong. Mereka menyirami api, namun tak lama kemudian, baik toko maupun tempat tinggal kami binasa. Dan le bandit itu pun menghilang.
Paginya kami menyisiri puing-puing rumah untuk mencari barang yang masih bisa diselamatkan. Tembok-tembok rumah masih tegak, namun penuh dengan warna hitam jelaga. Meja-meja telah berubah menjadi arang dan ambruk ketika disentuh. Mesin penyamakan meleleh separuhnya. “Perbuatan setan,” demikian ucapan seorang perempuan tua. Begitulah bayanganku setelah peristiwa itu. Sesungguhnya setan telah memasuki rumah kami dan jejak kaki yang ditinggalkannya adalah neraka bagi kami.
Maka, kami pun pindah–menuju desa tetangga Rennes-le-Château, yang terletak di puncak bukit. Ayahku membelikan rumah tanpa pemandangan itu karena tertarik dengan harga murah dan keindahan desa yang sangat terkenal (“Pemandangan yang bersahabat dari wilayah pegunungan,” katanya meyakinkan kami, “ dan ada sebuah kastil tua, persis di tepi jalan!”). Namun, seperti yang telah dicurigai ibuku, harga jual rumah itu membuktikan bahwa apa yang digambarkan ayah itu terlalu muluk untuk dipercaya. Karena rumah itu, seperti kebanyakan rumah di desa tersebut, sudah ditinggalkan berabad-abad lamanya. Tiupan angin yang terus menerus masuk melalui retakan tembok semennya membuat kami menggigil kedinginan. Ibu melarang kami mendekati pinggir jurang di belakang gereja karena khawatir diri kami diterbangkan angin.
Jika memang benar, sebagaimana yang dikatakan orang, bahwa angin adalah napas para iblis, maka Rennes-le-Château adalah sebuah desa yang penuh dengan roh halus, mengingat angin tramontane bertiup sepanjang waktu di wilayah itu. Sepertinya angin yang bertiup itu bahkan telah mengabarkan kedatangan kami ke lingkungan sekitar, karena semua penduduk desa sepertinya mengetahui siapa kami, dari mana asal kami, dan musibah apa yang baru saja menimpa kami. Meski demikian, mereka tidak menyambut kami dengan ramah. Ketika mendaki bukit itu, dengan ditemani seekor keledai, membawa sejumlah barang yang masih bisa kami selamatkan: tutup meja berenda, bed cover, beberapa piring aluminium, dan sejumlah buku yang halaman-halamannya telah hitam oleh asap–tak seorangpun menyambut kami. Sejak awal mereka memperlakukan kami demikian, karena mereka seolah mengetahui kalau kami merasa terhina dengan datang ke Rennes-le-Château. Meskipun orang tuaku tidak mengatakan apa-apa, aku merasakan bahwa perkiraanku itu ada benarnya.
Ayah bekerja sebagai buruh–yang menurutnya hanya bersifat sementara–di sebuah pabrik topi di Esperaza, sebuah tempat yang sudah lama dicelanya karena mutu produk-produknya yang rendah. Kelak, begitu keadaan keuangan kami membaik, ayah berencana membuka toko baru–meski ia sendiri tidak yakin bahwa Rennes-le-Château bisa menghidupi usaha semacam itu. Desa itu kecil, dan tak seorang pun yang mengikuti mode dalam berpakaian. Kaum pria mengenakan tutup kepala yang sama–terutama topi–selama tiga puluh tahun atau bahkan lebih empat puluh tahun.
Di pabrik, keterampilan ayah kurang dihargai. Ia terpaksa melakukan pekerjaan kasar seperti para pekerja lain: mengoperasikan pengungkit, memindahkan bagian-bagian mesin dari satu tempat ke tempat lain. Perasaannya menjadi semakin getir dan akhirnya ia lelah, karena perjalanan menuju Esperaza dan Rennes membutuhkan waktu satu jam setiap hari. Ia–dan Claude, saat ia mencapai usia tiga belas tahun–berangkat dari rumah setiap pagi buta dan baru pulang setelah senja, meninggalkan ibu, Michelle, dan diriku sendirian di desa yang tidak bersahabat itu.
Pada hari pertama setelah kedatangan kami, aku dan ibu bersama-sama ke pompa umum untuk mengambil air. Sumur itu terletak jauh dari ujung alun-alun. Beberapa perempuan berdiri di tengah alun-alun itu, telah selesai mendapatkan air mereka. Mereka hanya membisu ketika kami mendekat, dan meski pun ibuku sudah menyalami mereka satu per satu, tak lebih dari anggukan kepala yang diterimanya. Ibu memutar roda besi yang menggerakkan pompa untuk mengisi ember-ember yang kami bawa, kemudian kembali melalui kerumunan para perempuan tadi. Aku berkonsentrasi agar hanya menumpahkan air sesedikit mungkin. Kebisuan perempuan itu seperti cemoohan, terutama ketika suara mereka kembali berdengung begitu kami mencapai puncak bukit.
Terdapat pengecualian; tidak semua orang desa tidak baik terhadap kami. Penjual bahan makanan menyambut kedatanganku dengan ramah ketika aku singah untuk membeli tepung terigu. Sang kepala desa datang–ketika kami sedang makan siang–untuk memperkenalkan diri. Dan Madame Gautier, istri tukang daging, membawa beberapa potong roti daging domba. Tapi perempuan itu tidak berlama-lama, dan ia berbicara sambil berbisik-bisik meskipun kami telah menutup pintu rumah, seolah-olah khawatir suaranya terdengar oleh orang lain. Betapa rindunya aku terhadap hari Minggu pertama kami di desa itu! Aku berpikir bahwa seluruh penduduk desa akan mengubah diri mereka karena misa–bahwa entah bagaimana, ritual komuni dan berlutut serta berdoa bersama akan menjadikan kami anggota komunitas itu, dan kami akhirnya diterima sebagai tetangga.
Ibu, Claude, Michelle, dan aku berjalan meniti tanjakan yang lumayan jauh menuju gereja pada hari Minggu pertama itu (Ayah hanya menemani kami pada waktu Natal dan Paskah, itu pun kalau dipaksa ibu). Aku memerhatikan lagi gereja tua itu, seperti yang telah kulakukan beberapa kali sebelumnya, bagaimana kubah gereja itu tampak berat sebelah, seolah-olah benda itu perlahan-lahan tergelincir ke bawah semenjak abad ke tujuh belas, yakni, sebagaimana kami diberi tahu, saat gereja itu didirikan. Lumut tumbuh di celah-celah batu gamping dan burung-burung merpati bersarang di bawah atap serambi. Bagian dalam gereja tua itu bahkan lebih membutuhkan perbaikan lagi: dinding-dindingnya memperlihatkan banyak retak dan benjolan di sana-sini, sepertinya nyaris runtuh. Kebanyakan jendela telah diterbangkan angin badai beberapa tahun yang lalu, dan suara angin terdengar bersiul di bagian ruang bawah. Altar utamanya tak lebih dari sebuah lempengan batu yang ditopang dua tiang batu. Di lempengan itu berdiri tabernakel (red:tempat menyimpan hosti atau tubuh Kristus) yang terbuat dari kayu, yang lapisan peliturnya sudah mengelupas. Altar kedua dipasang menempel tembok, ditopang oleh sebuah tiang batu yang salah satu sisinya telah retak, di atasnya diletakkan patung Bunda Maria yang dihiasi dengan sebuah medali penghormatan dari tembaga yang bertuliskan “Oh, Maria, yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami orang yang berdosa ini.” Satu-satunya benda yang indah dari gereja itu diletakkan di ceruk di belakang altar utama: sebuah patung Kristus dengan lingkaran cahaya dan jubah berwarna biru, dengan dua jari tangan terulur memberi berkat.
Ruangan gereja itu kecil, dengan tempat duduk sekitar tujuh puluh orang. Kebanyakan umatnya adalah kaum wanita dan anak-anak. Di gereja, kejadian di dekat sumur itu berulang, pembicaraan orang-orang itu terhenti seketika pada waktu kami memasuki gereja. Semua kepala terarah kepada kami. Deretan bangku depan dibiarkan kosong, dan dugaanku, ini merupakan sebuah ujian untuk melihat apakah kami memiliki keberanian untuk duduk di sana. Ibuku dengan bijaksana memilih bangku di deretan paling belakang, kami mengikuti dia dan berlutut, sambil menundukkan kepala kami. Aku merasakan bahwa bahkan doa-doa kami–yang biasa kami lakukan sebelum misa di gereja kami yang dulu di Esperaza–dianggap sebagai komat-kamit untuk mengambil hati, karena doa seperti itu tidak lazim di Rennes-le-Château. Aku seolah-olah sedang menelan sebongkah batu. Aku mulai melihat bahwa penolakan terhadap kehadiran kami, yang kuanggap bersifat sementara itu, sepertinya akan tetap.
Imam yang memimpin misa itu, tampak setua gedung gereja, dan bicaranya begitu pelan sehingga amat sulit diikuti. Setiap kali kami mengakhiri kalimat, aku sudah melupakan awal kalimatnya. Umat malah tidur atau asyik berbicara selama ia berkhotbah. Imam itu sepertinya tak memerhatikan–ia tetap terus, menyanyikan lagu Pembukaan dan Kemuliaan, memberkati ekaristi, seolah kami tidak berada di sana, seolah-olah misa itu hanya merupakan komunikasi pribadi antara ia dan Tuhan. Ketika pastor tua itu meninggal dunia setahun kemudian, misa kematiannya ibarat sebuah pesta, pesta yang muram.
Segera setelah itu, desas-desus mulai beredar di seluruh desa mengenai seorang imam muda yang akan menggantikan posisinya. Kami mendengar, pastor muda itu berasal dari Clat, tempat yang sudah dilayaninya selama tiga tahun. Ibuku menunjukkan ketertarikan terhadap berita ini–mestinya ia telah mengetahui tempat Berenger berada ketika itu dan menduga bahwa pastor muda yang dimaksudkan adalah Berenger.
Menurut penulisnya, novel ini diangkat dari kisah hidup seorang Pastor Berenger Sauniere (1885-1971) dan kehidupannya di Rennes-le-Chateau, yang merupakan salah satu daerah di Perancis, yang merupakan wilayah pemukiman pengikut Nabi Isa (Red:Yesus) dari pelariannya, yang merupakan bagian dari suku atau bangsa Chatar. Novel ini memiliki keterikatan dengan Novel “Da Vinci Code” karya Dan Brown dan “Da Vinci Code De Coded” karya Martin Lunn. Sumber lain yang kami peroleh dari internet memperlihatkan bahwa ada benarnya sejumlah hal dari novel ini. Namun demikian menjadi hak pembaca untuk menguji kebenaran novel ini. Selamat membaca.