NASIONALISME ANAK BANGSA
63 Tahun sudah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Selama kurun waktu tersebut telah terjadi berbagai peristiwa yang terkadang mengancam keutuhan bangsa. Selama kurun waktu tersebut, anak bangsa cenderung mengagung-agungkan bangsa lain dibandingkan dengan bangsanya sendiri. Anak bangsa terbuai dengan gaya hidup bangsa-bangsa barat, yang dianggap lebih demokratis, bebas, dan superior.
Media massa baik local dan nasional terus senantiasa memberitakan tentang kritikan dan hujatan terhadap pemerintah, bangsa dan negara, bahkan tidak sedikit dari anak bangsa yang malu terlahir sebagai warga bangsa Indonesia.
Anak bangsa ini telah terbiasa menjadi bangsa pengkritik, bangsa penuntut, seolah-olah membangun negerii ibarat membalikkan telapak tangan, sim salabin abakadabra. Mereka tidak mau tau terhadap apa yang dihadapi oleh pemerintah, seolah-olah itu mutlak tugas pemerintah sebagai pelaksana Negara, dan bukan tugas mereka.
Selama kurun waktu tersebut, telah 6 kali terjadi peralihan kekuasaan kepemimpinan Negara dan bangsa, yang rata-rata diantara mereka turun/ lengser dengan cara yang tidak terhormat. Semua dianggap tidak becus mengelola Negara, yang mungkin mereka (Red : Anak Bangsa) itulah yang lebih becus seandainya memimpin Negara ini.
Sepanjang kurun waktu 1998 sampai sekarang, tidak sedikit di antara anak bangsa tersebut diberikan kesempatan menjadi pejabat tinggi Negara, apakah itu menteri ataupun anggota dewan yang terhormat, tapi toh ternyata mereka juga tidak lebih baik dari pendahulunya. Mungkin juga bila kami (red:penulis) menjadi seperti mereka, juga mungkin tak lebih baik dari pendahulu sebelumnya.
Kenapa sepanjang kurun waktu itu, kita tidak berusaha belajar untuk mengurangi sikap kritis yang cenderung destruktif. Kenapa kita tidak belajar budaya nerimo, kenapa kita menjadi terlalu penuntut. Mengapa kita tidak mencoba memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi para pemimpin bangsa dan Negara ini. Mengapa kita tidak sabaran menghadapi berbagai persoalan yang sedang menerpa bangsa ini.
Kita semua sepakat untuk anti NATO (NO ACTION TALK ONLY), tapi tanpa kita sadari justeru kita merupakan bahagian dari orang-orang pro NATO. Kita semua sepakat dengan perubahan, tapi ternyata dalam hati nurani kita yang paling dalam, ternyata kita adalah orang-orang yang takut akan perubahan sehingga menjadi anti perubahan.
Kita semua sepakat dengan gerakan pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme, tetapi dalam kenyataannya kita cenderung menerapkan korupsi, kolusi dan nepotisme. Kita semua sepakat dengan solidaritas dan budaya kolektifitas, tetapi ternyata kita kita cenderung tidak solider dan individualis.
Kita menuntut orang lain agar toleran, tetapi tenyata kita tidak toleran terhadap orang lain. Kita menyetujui dan mengagung-agungkan perbedaan, tapi ternyata kita tidak siap menerima perbedaan.
Dari semua ini semestinya kita bertanya, apa yang telah terjadi dengan bangsa ini ?. Kita telah menjadi bangsa dikotomis. Kita telah kehilangan jati diri. Kehilangan identitas, dan tanpa kita sadari kita telah tercerabut dari budaya bangsa yang diwarisi generasi pendahulu, para penjuang.
Kita semestinya belajar banyak dari Pram dan dari orang-orang lain yang telah dizalimi Negara (pemerintah), tetapi mereka masih tetap mencintai bangsa, Negara dan tanah air Indonesia. Nenek moyang kita terdahulu telah terbiasa memberi dan tidak terbiasa menerima.
Tanpa sikap dan budaya dasar bangsa ini, maka cepat atau lambat Negara ini akan jatuh dan tergadaikan. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita semua untuk mempertahankan bangsa, Negara dan tanah air ini. Tentunya bukan dengan bicara saja, tetapi lebih banyak diwarnai dengan perbuatan. Bangsa besar, adalah bangsa yang memuja dan mencintai negaranya tanpa pamrih apapun juga.
Nasionalisme yang selama ini kita agungkan, mari kita angkat dan kibarkan kembali dalam hati dan sanubari anak bangsa ini. Mari kita kurangi kritikan, mari kita bahu membahu untuk membangun Negara ini. Marilah memberi lebih banyak buat Negara, dan mari perkecil tuntutan pada Negara. Sudah cukup lama kita mengkritik, menghina bangsa dan Negara ini dan mari kita hentikan.
Melalui momentum HUT RI ke 63 ini, kita kembali berkaca pada peristiwa masa lalu guna menuju ke masa depan yang penuh harapan.
Mari kita menjalankan peran kita secara patut dan jangan berlebihan, karena Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa benci dengan orang-orang yang berlebih-lebihan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.