PUTRI TUHAN (lanjutan kedua)
Oleh Lewis Perdue
Judul Asli “Daughter Of God”
Penerbit Dastan Books, Jakarta, 2006
Penerjemah : Bima Sudiarto
627 Halaman
Dua
BERKAS TERAKHIR cahaya matahari membanjiri tubuh Seth Ridgeway dalam warna Gauguin sementara lelaki itu duduk di sofa kamar hotel dan sibuk menelaah tumpukan manuskrip kuno di atas meja. Setelah beberapa lama, ia mendongak menatap Zoe di seberang ruangan.
“Terus, mana sisanya?” ujar Seth penasaran. Ia membungkuk sambil meletakkan halaman terakhir ke tumpukan lain di atas meja dengan hati-hati. Seth memakai sepatu jogging, celana pendek, dan kaus lusuh biru laut berlogo LAPD. Endapan garam dari keringat bekas lari pagi menimbulkan bercak putih samar setengah lingkaran di sekitar leher dan ketiaknya.
Zoe melepas earplug alat perekam mini dari teliganya, menaruh pena yang sedang dipakai mencatat, lalu balas menatap.
“Dia bilang sisanya akan diantar besok.” Zoe duduk di depan meja kerja antik di pojok lain ruangan itu–kamar terbesar di Hotel Eden au Lac.
Hatinya melunak ketika melihat Seth. Ekspresi kecemasan di wajah suaminya itu lebih mirip guratan anak usia lima tahun menangisi mainan rusak ketimbangan mantan polisi berusia empat puluh tahun, lengkap dengan setengah lusin parut bekas luka tembak dan gelar Profesor Doktor bidang filosofi. Dunia melihat Seth sebagai lelaki tangguh. Bagi para penjahat dan rekan polisi, ia adalah legenda yang mampu mengindahkan berondongan peluru dan tetap menerjang ganas. Yang lebih menakutkan lagi–setidaknya bagi divisi altetik UCLA yang pernah membuat kesalahan menyertakan seorang bintang basket di kelas Seth–ia mampu meraih nilai tertinggi di divisi tersebut. Namun Zoe tahu bahwa di balik mitos macho dan legenda itu ada seorang bocah bermata lebar yang haus pengetahuan dan kelembutan hati. Seth mampu memberi cinta dan kesetiaan setulus dan seteguh batu karang. Cinta yang membuat Zoe tenang menjalani hari demi hari, dan setiap kali selalu terasa lebih nikmat dari sebelumnya.
Satu hal yang tak pernah dipahami Zoe adalah keyakinan Seth. Sebagai seorang ahli religi ia pasti mafhum pada kebohongan dan penipuan yang mendasari semua agama, tapi Seth tetap punya keyakinan. Setiap kali Seth menemukan alasan meneguhkan iman, buat Zoe tak lebih dari kepalsuan. Zoe tidak bisa–dan tidak akan–percaya pada Tuhan. Seth bisa. Ini jadi misteri yang tak kunjung jelas selama bertahun-tahun perkawinan mereka.
“Bes ….?” Ucapan Seth terpenggal. Wajahnya frustasi, dengan mata terpejam gemas. Zoe mengangguk. Ia bangkit dan berjalan mendekat. Bau keringat hasil olah raga pagi tadi sudah nyaris punah, tapi aroma maskulin yang tersebar mampu memicu sederetan kenangan sensual. Rasa garam saat terjilat dan sensasi balutan otot saat terengkuh. Sejenak terlintas pikiran untuk melorotkan gaun tidurnya–ber-toples-ria dengan bikini. Tapi Zoe malah berkata, “Max orangnya aneh, tapi sangat tulus–setidaknya begitu yang aku yakini. Dia bilang, kalau kita bisa benar-benar mengerti betapa pentingnya naskah yang kau punya sekarang ini, barulah ia mengirim sisanya.”
“Punya?” jawab Seth. “Hanya punya … bukan beli, baca, atau pinjam? Hanya punya?” ia merepet.
Kembali Zoe mengangguk. Tangannya menyentuh pundak Seth. “Dia bilang, semua ini tak berarti lagi baginya. Ia ingin menebus dosa.”
Seth mengangguk. “Yeah. Harus diakui, memang tindakan terpuji. Pun bila sumbernya dari perasaan sesal menjelang mati.”
Zoe melirik jam.
“Ada apa?” tanya Seth.
“Max.” Dahi Zoe berkerut. “Katanya mau kirim sesuatu via kurir, tapi kok belum datang juga.”
“Sesuatu?”
“Sudah kubilang dia itu aneh.” Zoe mendesah, lalu mengangguk tepekur serta mendudukkan diri ke sofa di samping Seth. Pandangannya berganti dari manuskrip di atas meja dan kembali ke Seth. “Jadi, apa yang kita dapat dari naskah Yunani kuno ini, Profesor?”
“Pertama-tama, ini soal semangat keagamaan–“
“Dongeng penyiksaan lagi, ya? Martir yang menyiksa diri demi profit dan kesenangan pribadi?”
Seth mengangguk. “Bagian pertama, yang ini”–sambil mengetuk halaman dimaksud dengan telunjuk–“adalah naratifnya. Bagian kedua–yang belum kita punya–mestinya berisi keseluruhan transkripsi tentang cobaan tersebut.”
“Aku masih tak habis pikir setiap kali terbayang betapa banyak laporan dan catatan tertulis yang dipurukkan begitu saja oleh orang Roma di ruang arsip mereka.”
“Bisa dibilang, merekalah yang menemukan sistem birokrasi pelaporan dan catatan tertulis,” sahut Seth.
“Lantas, apa istimewanya yang satu ini?” Tanya Zoe. “Kupikir semangat religius biasanya melulu berisi hiperbolisme padri-padri gereja tanpa sentuhan realitas. Kau tahu, bahan propaganda klasik buat kalangan beriman.”
“Biasanya begitu.” Sejenak Seth mengangkat alis dan menatap langit-langit kamar. Ia lalu melanjutkan, “Satu hal yang pasti, kalau dokumen ini benar-benar autentik, ia bisa jadi merupakan salah satu dari banyak sekali naskah karya Eusebius yang hilang. Kau tahu, dia adalah penulis biografi Constantine1 (red:Kaisar). Kisahnya berujar tentang seorang wanita muda bernama Sophia, dan menurut manuskrip ini, ia tinggal di sebuah desa terpencil di pegunungan suku Anatolian2 di Smyrna. Smyrna yang sekarang dikenal sebagai Izmir–kota pelabuhan di sebelah barat Turki, tapi pada waktu itu merupakan pusat pergolakan awal gereja Kristen. Tak terlalu jauh dari kota-kota Perjanjian Baru seperti Ephesus dan Philadelphia–“
“Aku tahu itu, Cinta,” ujar Zoe lembut. “Aku bukan muridmu lagi, lho.”
“Hehe … maaf.” Seth memberikan cengiran sekilas yang pernah begitu memesona Zoe saat pertama kali melihatnya di podium ruang kuliah. Senyum itu pula membuatnya terbuai dalam serangkaian kampanye godaan, hasrat, dan cinta; menggiringnya dari sekedar murid, berlanjut menjadi pacar, dan akhirnya istri.
“Baiklah. Aku lanjutkan, ya. Desa kecil di Smyrna ini lebih mirip resor untuk kaum nomaden. Dan kalau tidak salah baca, kemungkinan tak pernah memiliki lebih dari dua atau tiga ratus penduduk. Sedikit sekali berhubungan dagang dengan dunia luar. Tak ada kuil, gereja, sinagoge, altar paganisme, atau apa pun. Hal ini saja sudah unik karena saat manuskrip ini ditulis–tahun 325 Masehi, selang beberapa bulan setelah Konferensi Nicean–agama sedang jadi topik hangat di mana-mana. Orang-orang membicarakan agama sama hebohnya seperti manusia sekarang bergunjing soal pertandingan atau skandal asmara. Waktu itu ada banyak sekali sekte serta variasi keyakinan Kristen dan semuanya saling sengit tentang siapa di antara mereka yang menjadi …”–Seth membuat tanda kutip di udara dengan jari telunjuk dan jari tengah–“ Gereja Sejati.”
“Duh, maksa sekali, ya?” kening Zoe berkerut. “Sembahlah Tuhan kami yang sejati, penuh cinta dan kasih atau kami cabik-cabik bayi kalian.” Ia menggeleng protes sambil menggeser tubuh lebih jauh ke pojok sofa, menatap Seth.
Seth mengangkat pundak dan tersenyum tipis. “Begitulah. Jadi ceritanya kita punya seorang gadis kecil bernama Sophia yang tumbuh dewasa di tengah padang terpencil nan subur, tanpa pendidikan agama atau tradisi apa pun. Lalu tiba-tiba, beberapa hari setelah menstruasi pertama, ia mulai mendapat visi atau wangsit–katakanlah begitu. Ia mendengar wahyu Tuhan.’
“Wah, pasti sudah lebih dari cukup untuk membuatnya langsung dimartir,” celutuk Zoe.
Kali ini giliran Seth yang mengerutkan kening. “Sepertinya aku sedang tidak mood meributkan hal itu lagi malam ini. Kalau boleh.” Ia membuka mulut seolah ingin melanjutkan, tapi tidak jadi.
Zoe mengamati wajah Seth lamat-lamat. Pandangannya disambut kekukuhan pendirian tanpa batas. Zoe menatap lebih lembut, mencoba mencairkan situasi. Tapi kata-kata yang keluar tak ayal berisi keyakinannya sendiri.
“Seth, mestinya kau tahu bahwa aku tidak bermaksud memojokkan–setidaknya tidak secara langsung. Tapi kau pasti juga tahu bahwa tidak ada spiritualisme dalam agama terorganisir.” Zoe melanjutkan. “Agama lebih cenderung membunuh dan memecah-belah orang. Sebuah agama terorganisir tak keberatan berbohong, berbuat curang, mencuri dan menghabiskan banyak waktu untuk menutupi kejahatannya sendiri. Lihat saja di mana-mana: orang Yahudi dan Arab, para rabi ortodoks yang meninggikan diri sendiri sebagai ayatullah bangsa Yahudi demi mengasingkan golongan Yahudi lain, Muslim Suni membunuhi Muslim Syiah, Katolik dan Protestan saling cekik–padahal masing-masing dari mereka tak lebih rasis dan seksis dari kelompok yang mereka caci. Kalau Tuhan sungguh ada dan wujudnya persis seperti kartun-kartun karangan mereka, maka percayalah: masalah kita jauh lebih besar dari bayangan siapa pun.”
“Yeah, well ….” Seth bergumam tak jelas. “itu semua cuma kisah usang. Bagian dari sejarah. Tak beda dengan sejarah hubungan kita sendiri. “Ia bangkit dan berjalan menuju bar mini dekat pintu. Tangannya sibuk membuka sumbat botol Chateau La Gaffeliere.
Zoe enggan menutup topic begitu saja. “Dan terus terang, aku benar-benar suka dengan ayat mazmur yang berkoar tentang kisah saat berada di tepi Sungai Babilonia, yang lantas digubah Joni Mitchell jadi lagu balada,” Zoe terus memburu. Ia ikut bangkit dan mendekat. “Cuma sayangnya, tak ada yang ingat bahwa di akhir ayat mazmur itu ada tulisan yang berbunyi, ‘diberkatilah mereka yang membenturkan kepala anak-anakmu ke batu.’ Ini kejam sekali. Bahkan tak ragu kusebut genocide–pemusnahan bangsa. Jika aku percaya Tuhan, pastinya tak akan percaya pada Tuhan yang menyuruhku membunuh bayi-bayi.”
Seth menuang anggur dengan tenang ke dalam dua buah gelas sementara Zoe merepet, kemudian balas mendekat dan menawarkan satu gelas. Kekerasan hati sang istri langsung lenyap saat menatap keterbukaan dan keprihatinan di wajah Seth.
“Maafkan aku, ya,” ujar Zoe seraya menyambut uluran gelas. “Aku terbawa emosi. Headline koran akhir-akhir ini sungguh mengesalkan … sarat dengan manusia-manusia angkuh dan sok paling benar sendiri ….” Zoe melanjutkan sisanya dalam pikiran. Mereka berdua sudah sama-sama mengerti betapa sia-sianya meneruskan topik yang satu ini.
“Damai, ya,” Seth mengajak bersulang. “Setidaknya buat kita.”
Zoe tersenyum dan mengangkat gelasnya untuk toast.
“Untukmu,” katanya.
“Buatmu juga,” jawab Seth. Dua gelas berdenting lembut saat bertemu. Keduanya menyesap anggur, lalu cukup lama untuk duduk bersama dalam diam.
“Kau ingin kembali memeriksa manuskrip-manuskrip itu?” ujar Seth akhirnya.
“Tentu,” jawab Zoe. “Aku benar-benar minta maaf. Tapi intermeso soal religi tadi membuatku kesal.”
Mereka kembali ke sofa. Seth memeriksa berapa halaman, lalu melanjutkan, ‘‘‘Karena ada kuil atau tempat ibadah di kota ini, Sophia lalu naik ke sebuah gerobak sapi yang di parkir di alun-alun kota dan mulai berkhotbah. Mukjizat menyusul kemudian: ia mampu menyembuhkan orang–’” Seth menunggu reaksi istrinya. Zoe membalas dengan tatapan sabar tapi tak berkomentar apa-apa.
‘‘‘Sejak itu ia mulai banyak melakukan aktivitas pengusiran setan, dan suatu ketika, saat persediaan minyak lampu penduduk habis …”’ Seth mengangkat jari sambil meletakkan gelas ke atas meja. Tubuhnya membungkuk mencermati manuskrip lebih teliti.
Zoe duduk merapat, meletakkan tangan di atas paha Seth, merasakan otot-otot yang bergerak liat di bawah jemarinya. Matanya menyelusuri wajah Seth, memandang otot-otot suaminya bergerak-bergeser sementara Seth sedang terfokus pada manuskrip.
“Nah, ini dia,” ujar Seth sambil menarik sebuah halaman manuskrip dari tumpukan dan mulai membaca tulisan tangan berbahasa Yunani. ‘‘‘Saat itu seluruh khalayak dikagetkan. Sophia meminta mereka yang mengeluh soal persediaan minyak lampu untuk membawakan air. Ini segera dilaksanakan. Sophia lalu berdoa di atas permukaan air dan dengan keyakinan penuh pada Tuhan, memerintahkan mereka untuk menuangkan isinya ke lampu. Setelah dilakukan dengan mukjizat Ilahi air itu berubah menjadi minyak lampu.’
“Dikatakan di sini bahwa orang menyebut Sophia sebagai ‘Zaddik’, yang kalau diterjemahkan berarti ‘Manusia Luhur’ atau ‘Guru Keluhuran’.”
Seth berhenti membaca dan menunjuk halaman manuskrip tersebut. “Kau lihat sendiri? Namanya dikelilingi lingkaran … di sini juga.” Ia menunjuk baris kalimat lain. “Ini kata Yunani kuno untuk she atau kata ganti orang kedua Bahasa Inggris dalam bentuk feminin.”
Zoe mengangguk. “Lalu?”
“Kau ingat tadi aku bilang bahwa manuskrip ini baru konsep awal dan bukan merupakan karya utuh?” Seth mulai bersemangat. “Nah, aku bisa langsung mengenalinya karena pernah membaca kisah yang sama dari karya Eusebius. Tapi karya itu––aku baca versi finalnya––malah bercerita tentang kemartiran Narcissus. Jelas-jelas ada kata ‘he’ dalam karya itu. Manuskrip yang aku pegang ini boleh jadi versi aslinya, tapi telah diedit untuk mengubah gender.
“Nah, itu baru kejutan, “ ujar Zoe.
Mereka saling tatap dalam diam selama beberapa saat sebelum Seth melanjutkan.
“Begitulah. Bisa ditebak, berita kemukjizatan Sophia segera tersebar luas. Eusebius yang saat itu menjabat sebagai uskup Gereja Kristen yang resmi dan diakui Kaisar Constantine, datang mengunjungi dusun kecil tempat Sophia tinggal. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Constantinople atau dari istana kekaisaran di Nicomedia. Dugaanku, peristiwa ini ternyata memberi dampak serius sampai memperoleh perhatian penuh dari kaisar sendiri.”
“Kok bisa?” Zoe menyesap anggur. Enaknya berisi visualisasi karya-karya seni dan arsitektur zaman Bizantin yang pernah dipelajarinya, lengkap dengan penduduknya.
“Constantine terkenal paranoid soal penyatuan bangsa,” jelas Seth. “Ia hadir menjadi penengah saat Kekaisaran Roma punya empat Caesar yang saling cakar-cakaran. Sebagian besar karirnya habis di medan perang dan kampanye menyatukan Roma. Ini ia anggap vital demi mempertahankan diri dari serbuan suku-suku barbar yang tak henti menggedor gerbang kota, juga demi menyudahi perseteruan internal yang tak kunjung habis. Saat akhirnya meraih takhta sebagai kaisar, tekadnya makin bulat untuk memerintah sebuah kekaisaran yang bersatu, tak peduli apa atau siapa yang harus disingkirkan.”
“Tapi bukankah Constantine dikenal sebagai kaisar Kristen pertama?” Tanya Zoe.
“Hanya saat menjelang ajal,” jawab Seth. “Sol Invictus, sang Dewa Matahari, tetap menjadi sesembahan utama sampai beberapa jam menjelang kematiannya. Semasa hidupnya, agama Kristen lebih disikapi sebagai taktik kekuatan politik––sebuah metode pemerintahan ketimbang agama itu sendiri.”
“Tidak orisinil juga, ya?”
“Memang tidak, tapi kurasa dialah penguasa pertama yang mampu menyetir agama sedemikian rupa demi menyokong konsolidasi kekuatan pemerintahan. Ia mampu melihat bahwa agama baru ini tampaknya tidak akan lenyap begitu saja. Terlebih jika melihat bahwa selama tiga ratus tahun pertama pertumbuhannya, agama Kristen selalu menjadi pengaruh yang menggoyahkan kestabilan pemerintahan. Ia melihat ini sebagai sebuah kekuatan yang terus tumbuh, jadi daripada dilawan lebih baik dipeluk. Dengan demikian ia mampu mengendalikan gereja untuk tujuan pribadi dan membentuk teologi demi kekuatan politik. Akibatnya, sangat banyak hal-hal yang diyakini orang-orang zaman sekarang sebagai konstitusi keilahian, sesungguhnya bersumber dari dekrit politik Constantine yang dipaksakan di ujung pedang.”
“Misalnya?”
Seth tepekur sejenak. Ia menyesap anggur dan beranjak ke jendela, menatap matahari tenggelam agak lama sampai akhirnya berbalik menghadap Zoe dan berkata, “Bagaimana jika kucontohkan dengan satu hal yang paling mendasar dalam kepercayaan gereja Kristen, yaitu Trinitas?”
Kening Zoe berkerut. Mencoba menyimak.
“Kita tahu bahwa sama sekali tidak ada aturan pasti di gereja Kristen perihal apakah Yesus harus disembah setara dengan Tuhan. Dan kau bisa menemukan banyak bukti nyata bahwa Yesus sendiri sebenarnya tidak ingin disembah dengan cara demikian.
“Tapi di tahun 324 Masehi, isu ini diangkat ke permukaan oleh seorang uskup bernama Arius, seorang sesepuh gereja Presbiter di Alexandria. Ia berujar bahwa Yesus “Sang Putra” telah diciptakan dan dibenihkan oleh Tuhan “Sang Bapa” dan karena itu tidak memiliki cukup kualitas keilahian untuk disembah setara dengan Tuhan. Yang lain tak setuju dan segera terjadi kerusuhan di seluruh kekaisaran, apalagi kemudian ditambah dengan setengah lusin isu-isu kritis teologi lainnya. Doktrin ini menyebar seperti api, seiring kerusuhan dan pertumpahan darah yang makin bertambah.
“Kerusuhan seperti ini tentu saja bukan pemandangan yang enak di mata kaisar. Inti permasalahannya pun membuat ia pusing dan sebal. Menurutnya masalah ini sangat sepele dan tak pantas diributkan. Jelas ia kaget saat perintahnya untuk menghentikan perseteruan tidak diindahkan. Segera ia menggelar Konferensi Nicean. Para ahli teologi gereja modern mewartakan dogma bahwa konferensi ini adalah pertemuan sekelompok orang-orang suci atas wahyu Tuhan, dengan tuntunan Ruh Suci. Pada kenyataannya, pertemuan di belakang gudang kayu itu adalah atas perintah Constantine.”
Sementara Seth bicara, senja mulai turun. Kamar makin gelap oleh bayangan menjelang malam, tapi tak satu pun yang bergerak menyalakan lampu.
“Constantine mengandalkan pedang dan pasukan sebagai pendukung utama,” lanjut Seth. Kisah sejarah itu berputar semakin terang di kepala Zoe sementara kegelapan yang turun makin menghapus detail masa kini.
Zoe memecah kesunyian. “Sejauh ingatanku, ini bukan pertama kalinya teologi ditulis di ujung todongan pedang.”
“Dan bukan yang terakhir, memang,” Seth tersenyum. “Melihat para uskup lagi-lagi berdebat di ruang konferensi, Constantine jadi habis kesabaran. Saat itu status religinya masih paganisme di mata gereja dan belum lagi dibaptis, tapi ia lantang menengahi dan memutuskan bahwa Yesus dan Tuhan itu ‘setara dalam esensi’ dan patut disembah secara seimbang. Di bawah ancaman pedang, semua pihak di ruangan itu juga harus menanda tangani deklarasi kesaksian yang menyatakan bahwa putusan ini merupakan wahyu dan kehendak langsung dari Tuhan. Dari sekian uskup dan petinggi gereja, hanya dua orang yang menolak. Keduanya dikucilkan gereja dan semua tulisan mereka diperintahkan agar dibakar.” Ia diam sesaat.“ Demikianlah, bagaimana Trinitas yang menjadi pusat keyakinan tak terbantahkan dalam agama Kristen, ternyata diresmikan di ujung pedang oleh orang yang bahkan belum lagi masuk Kristen. Tidak atas dasar iman tapi semata-mata demi menegakkan ketertiban umum.”
Zoe tersenyum masam dan menggeleng perlahan.” Jadi, Deklarasi Nicean yang sakral itu ternyata cuma akal-akalan Constantine untuk menyamakan antara cerita dan persepsi, sampai sekarang.”
“Begitulah.”
“Huh,” desah Zoe saat bangkit dan berjalan ke jendela, memandang kedipan bintang di permukaan danau. “ Jadi mirip kata pepatah, ya … tentang dua hal utama yang proses pembentukannya tak boleh diketahui publik, yaitu sosis dan undang-undang.” Ia berbalik menatap Seth. “Seharusnya kini tambah satu lagi, yaitu teologi.”
“Konyol memang,” ungkap Seth sambil mendekat. Berdua mereka menikmati pemandangan danau.
“Aku jadi makin tak mengerti kenapa kau masih bersikeras untuk percaya, padahal sudah tahu semua ini.”
Seth mendesah keras, “Kadang aku sendiri heran, tapi aku terus berpikir bahwa di balik semua tipu daya teologi dan birokrasi gereja, pasti ada setitik kebenaran yang bisa diimani.”
“Apa gunanya setitik kalau yang sebelanga tetap jadi misteri?”
“Mungkin justru misteri itu intinya.” Ia mengangkat bahu. “Mungkin misteri itu memang harus ada karena kita berusaha menembus ketidakterbatasan dengan mata biologis yang begitu terbatas. Mungkin yang sesungguhnya diinginkan Tuhan bukan penerimaan buta atas dogma tapi pencarian seumur hidup … membuang apa yang jelas-jelas palsu dan menguji sisanya. Itu sebabnya manuskrip pemberian Max begitu penting. Manuskrip ini menunjukkan sekali lagi tentang bagaimana sebuah kebenaran disunting sedemikian rupa agar tampak seolah-olah bernuansa ilahi demi kepentingan segelintir orang. Dalam hal ini, mereka ingin menekan anggapan apa pun yang menyatakan bahwa wanita juga punya tempat dalam gereja. Jadilah mereka ubah gender Sophia menjadi laki-laki dalam versi manuskrip yang lebih dikenal luas.”
“Ah, yang benar saja,” cetus Zoe. Tapi tak urung ia tepekur beberapa saat, lalu kembali normal saat menyesap anggur. Seth mengamati bagaimana sorot mata itu berubah begitu halus, mencerminkan pikiran yang bergolak di baliknya. Saat Zoe bicara kemudian, jelas terlihat keputusan batinnya untuk mengalihkan permasalahan. “Tentang transkripsi proses kemartiran Sophia.”
“Ya, kenapa?”
“Kalau terjemahan aslinya memang ada dan bukan sekedar ringkasan atau omong kosong lain yang disisipkan Eusibius dalam manuskrip, bukankah merupakan konfirmasi sekuler bahwa kisah Sophia ini nyata? Bahwa ia mampu menghadirkan mukjizat?”
“Kekuatan untuk menyembuhkan benar-benar nyata dan hadir di pikiran semua orang.”
“Tapi apakah transkripsinya sendiri turut menghadirkan pembuktian? Toh kita tahu bahwa pihak penguasa jelas-jelas menentangnya. Jika mereka mengonfirmasi peristiwa kemukjizatan dan penyembuhan itu, bukannya malah menurunkan kredibilitas kesaksian kalangan yang meyakini Sophia?”
“Bisa jadi. Atau bisa juga ada segelintir kaum revisionis Kristen cerdas yang membuat transkripsi tersebut lalu mengatributkannya ke peradilan dari pihak penguasa agar tampak seolah-olah demikian. Bagaimanapun, manuskrip ini tetap menjadi hal terpenting sepanjang karierku,” ujar Seth. “Dan kesal sekali rasanya hanya bisa memiliki separuh cerita.”
Zoe mengangguk. “Aku mengerti perasaanmu. Rumah itu … mahakarya seni di dalamnya ….” Zoe membiarkan kalimatnya mengambang di kegelapan untuk beberapa saat.
“Rasanya seolah semua yang pernah kulakukan, semua yang telah aku pelajari sampai sekarang hanya merupakan latihan untuk sampai ke momen ini,” Seth memotong.
Zoe menggumam setuju.
“Kurasa kadang-kadang Tuhan mengulurkan tangan dan mendorong kita sampai ke tepian pencarian,” tambah Seth. “Kita cuma harus sedikit putar otak untuk bisa mengenali dorongan tersebut. Seumur hidup aku berdoa menginginkan hal seperti ini.”
“Seth … ayolah, jangan konyol.” Zoe menggeleng gemas sambil menoleh. “Aku juga takjub dengan semua ini, sama sepertimu. Ini juga peristiwa sekali seumur hidup buatku. Tapi tak harus dikaitkan dengan intervensi ilahiah, kan? Yang jelas, kau memang pantas mendapatkan hal ini dan bahwa kau kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat.”
Seth memalingkan badan, bersedekap tangan. Secara mental ia sama sekali tak suka, apalagi menyetujui bantahan ini. Zoe mendesah keras. Selama beberapa menit mereka berdiri seperti itu di kegelapan.
Sadarkah kau bahwa kita tengah memandang peristiwa yang sama? pikir Zoe. Matanya bergerak mengikuti lampu jalan sepanjang jalan raya di tepi pantai. Tapi kenapa setiap kali kita menatap hal yang sama, kesimpulan yang kita dapat selalu kontradiktif?
“Seth,” akhirnya Zoe berkata. “Percayalah, ini cuma masalah sudut pandang.”
Seth perlahan menghampiri. Beberapa saat ditatapnya garis bayangan wajah sang istri di kegelapan, lalu tersenyum.
“Aduh, Sayang! Mungkin sebaiknya kau mandi dulu kalau mau aku lengket padamu!” Tangannya merayapi bahu Seth, turun ke perut.
“Hmm … idemu bagus juga.” Seth mencoba memeluk lagi. Zoe menahan dadanya untuk mendorongnya lembut.
“Mandi dulu. “Kedua tangan Zoe menepuki pipi Seth lambat-lambat.
“Oh, sial,” kata Seth sambil pasang muka pura-pura kecewa dan membalikkan badan menuju kamar mandi.” Tapi aku menuntut ciuman yang lebih baik setelahnya.”
“Pasti, Cinta!”
Zoe menyalakan lampu tinggi dekat jendela, mengemasi kertas-kertas yang berserakan di meja, lalu menumpuknya bersama sebuah amplop tebal. Zoe berseru menahan langkah Seth yang belum lagi sampai di ambang pintu kamar mandi, “Aku mau taruh ini dulu di kotak deposit hotel, sekalian memastikan apakah kiriman Max sudah sampai atau belum.” Lalu seketika tatapannya berubah nakal. “Setelah itu sebaiknya kau bersiap diterkam, Tuan Besar.”
Seth masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran air panas. Terdengar pintu kamar ditutup saat Zoe pergi. Ia lalu masuk ke shower.
Zoe memang benar soal korupsi spiritual akut yang mendasari banyak organisasi keagamaan, renung Seth di bawah curahan air. Ia juga tak ragu bahwa umat Yahudi dan Kristen di masa-masa awal perkembangannya memandang Tuhan sebagai sosok gabungan pria dan wanita. Bab pertama Genesis –- Kita Kejadian –- jelas-jelas mendeskripsikan Tuhan yang androginus, jelas berkarakteristik gender ganda, di mana derajat pria dan wanita setara. Lalu ratusan tahun kemudian, beberapa tokoh gereja menambahkan kisah Adam dan Hawa di Kitab Kejadian 2 –- jelas dengan tujuan untuk mendukung doktrin dominasi kaum pria.
Saat keramas, Seth mengingat lagi riset sejarah tak terbantah yang membuktikan bahwa apa yang dipandang orang sebagai agama Yahudi atau Kristen sekarang ini sebenarnya hanya seujung kuku dari keanekaragaman agama yang telah ada jauh sebelumnya, bahkan di tahap-tahap awal perkembangan agama Yahudi dan Kristen itu sendiri. Parahnya, para petinggi gereja tega “membentuk” agama sedemikian rupa agar sesuai dengan budaya lokal dan kebutuhan politik, sementara kepada umat mereka katakan sebaliknya. Kesuksesan diraih dengan memisahkan dan menyamarkan benih di berbagai tulisan, baik kontemporer maupun tambahan di Injil itu sendiri, serta membuang apa-apa yang dianggap gagal mendukung citra Tuhan yang ingin mereka sembah. Alkitab-alkitab tandingan yang resmi atau tidak resmi dibakar dengan alasan bid’ah karena tidak mendukung dogma ortodoks.
Seth membilas rambut mulai bersabun-ria. Kegiatan ini selalu menyengatkan sedikit perih pada luka-luka bekas tembak di beberapa bagian tubuhnya, meski tinggal parut. Injil Kristen tahun 1300 Masehi memuat lebih banyak buku ketimbang Injil yang sama pada tahun 1700 karena pihak gereja telah merevisi ulang sejarah dan dogma yang terkandung di dalamnya. Ia jadi mendusin, apakah orang-orang yang memuja berdasarkan Injil kuno dan menyakini bab-bab yang kini hilang harus ditendang dari surga?
Seth membilas baluran sabun, mematikan keran dan menggapai handuk.
Bagaimana mungkin orang bisa begitu saja mengabaikan fakta bahwa pemilihan tulisan yang disertakan dalam Injil dilakukan berdasarkan politik, dan bahwa kitab-kitab itu telah ditulis ulang sedemikian rupa agar sesuai dengan dogma yang diubah dari zaman ke zaman? Banyak kitab Taurat yang tak mungkin ditulis langsung oleh Musa sebagaimana anggapan orang karena kitab-kitab itu berisikan rujukan sejarah yang terjadi setelah kematian nabi. Bencana serupa juga menimpa Injil Perjanjian Baru. Di situ sedikit sekali –- atau malah boleh dibilang tidak ada bukti-bukt yang mengonfirmasi bahwa kita tersebut memang ditulis oleh penulis yang dirujuk.
Seth menyeka badan dengan handuk dan menyisir rambut dengan tangan. Perasaan bersalah melesak seperti jangkar batu di kedalaman hatinya. Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan Kristen Presbiterian yang ketat, sulit menepis perasaan bahwa ia bakal masuk neraka karena mempertanyakan kesempurnaan absolut dan kesucian Kitab Perjanjian Baru.
Sambil merenung, ia kembali ke kamar tidur dengan handuk di tangan mengeringkan rambut. Saat itu matanya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang serasa menonjok mukanya dengan telak.
Manuskrip Yunani hilang, bersama semua catatan Zoe dan alat perekam mini yang tadi disimak Zoe. Dompet Zoe tergelatak di lantai dan isinya terburai ke mana-mana. Zoe tak ada di tempat.
Seth melesat memburu telepon.
Selamat menikmati lanjutan dari kisah sebelumnya. Dan kami hanya berharap agar penyampaian novel ini bermanfaat bagi pembaca.